Rabu, 08 Oktober 2014

KEPEMIMPINAN

Pemimpin tradisional adalah orang yang dapat mempertahankan suatu visi, menyatakannya dengan jelas dan mengkomunikasikannya dengan penuh semangat serta karisma. Ia juga menjadi orang yang tindakan-tindakannya mewujudkan nilai-nilai tertentu yang menjadi patokan bagi orang lain.

Pemimpin yang satunya memberi kemudahan bagi munculnya pembaruan. Ia menciptakan kondisi, bukan memberi arahan, dan menggunakan kekuatan otoritas untuk memberi kuasa bagi orang lain. Ia juga menciptakan suatu visi; pergi ke tempat-tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya. Ia memberi kesempatan kepada masyarakat secara keseluruhan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Ia memudahkan kreativitas.

Pemimpin yang baik akan memberitahu anak buahnya secara terbuka mengenai aspek perubahan yang sudah dipastikan dan apa yang masih belum pasti. Mereka akan mencoba membuat prosesnya transparan, walau hasilnya tidak bisa diketahui sebelumnya.

Pemimpin yang berpengalaman akan mengevaluasi situasi, memegang komando (kendali) bila perlu, namun tetap cukup fleksibel untuk melepasnya. Untuk menjadi pemimpin seperti itu memerlukan berbagai kecakapan, sehingga memungkinkan berbagai jalur tindakan.

****Sumber : Buku “The Hidden Connection” (Kehidupan Dan Kepemimpinan Organisasi)


Rabu, 01 Oktober 2014

PANCASILA


Prof. DR. Mr. Soepomo: “Tidak ada yang salah dengan Pancasila. Namun tidak ada jaminan bahwa kita bebas dari salah pemahaman atasnya pada tingkatan hulu pengertian oleh penyelenggara Negara. Demikian pula mengenai kehidupan keagamaan kita; Tidak ada agama yang salah di tangan nabi-nabi; tetapi tidak ada jaminan bahwa kita bebas dari kesalahan pemahaman kita, termasuk para penghulu agama.”

**** 
Sumber : Buku, “Cakrawala Indonesia”;H. Max Mulyadi Supangat;Yayasan Sinar Kebajikan; 2002

INDONESIAN FOUNDING FATHERS

Drs H. Marzuki Usman, MA  : "Para founding fathers, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Muh Tamrin dan kawan-kawan. Mereka ini para pejuang tanpa pamrih. Mereka berani mengorbankan masa depan yang sudah pasti untuk suatu mimpi yaitu Indonesia-ku. Pada waktu itu kata Indonesia masih baru. Kapan merdeka? Jawabannya tidak tahu. Apakah setelah merdeka mereka pasti menjadi menteri atau presiden? Jawabannya tidak pasti. Mereka berkorban dan dikorbankan demi mimpi Indonesia-ku. Yang pada akhirnya perjuangan mereka membuahkan hasil dan lahirlah Negara Republik Indonesia ini." 

**** 
Sumber : Buku, “Cakrawala Indonesia”;H. Max Mulyadi Supangat;Yayasan Sinar Kebajikan; 2002

LEADER OF NATIONS




Presiden Soeharto (Presiden Indonesia)  pernah berkata kepada mahasiswa (1970) : “Bagi saya kepresidenan adalah pekerjaan yang berat. Engkau tahu bahwa pada mulanya saya enggan menerimanya. Saya menerimanya hanya karena rakyat mendesakkannya kepada saya.” 

**** Sumber : Buku, “Biografi Presiden Soeharto”;O. G Roeder;Penerbit Gunung Agung; 1976

Vaclav Klaus (PM Republik Ceko) : “Pemimpin-pemimpin potensial harus merumuskan dan menjual kepada warganya suatu visi positif tentang masyarakat di masa depan.”

Lee Kuan Yew (PM Singapura) : “Kami memutuskan apa yang benar, tidak peduli apa yang orang lain pikirkan.”

****Sumber : The Marketing of Nation; Philip Kotler, Somkid Jatusripitak, Suvit Maesincee; PT Prenhallindo;1997

Ketahanan Bung Karno

Dr. Raden Soeharto, dokter pribadi Bung Karno bercerita bahwa menjelang pembacaan teks proklamasi tahun 1945 dulu Bung Karno dalam keadaan sakit. Bung Karno sedang kumat malarianya. Beberapa menit sebelum teks proklamasi dibaca, beliau masih dalam keadaan tidur dengan panas suhu tinggi. Waktu itu tak seorangpun yang  berani membangunkan beliau. Dan mengingat waktu yang telah ditetapkan untuk  pembacaan teks proklamasi sudah mepet, maka takut-takut saya beranikan untuk membangunkannya. Setelah itu saya suntik dan saya kasih tablet, penderitaannya agak berkurang. Setelah Bung Karno bisa bangun, kemudian Pak Latip Hendraningrat menjemput Pak Hatta, dan setelah Pak Hatta datang berlangsunglah pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan upacara Pengibara Merah Putih di Jl.  Pegangsaan Timur 56 Jakarta.  Saat-saat itulah yang merupakan saat yang paling bersejarah bagi bangsa Indonesia setelah ratusan tahun dijajah.

Ketahanan Bung Karno terhadap sakit ini pernah pula beliau tunjukkan pada suatu rapat umum di Ternate. Seperti biasa di atas panggung selalu kelihatan charming dan segar bugar. Dan dengan penuh semangat beliau berpidato dengan semangat berapi-api (dan ini memang merupakan ciri khas Bung Karno sebagai orator). Tetapi ketika selesai pidato dan turun panggung, menurut dokter pribadinya, Bung Karno terpaksa merangkak. Karena ternyata beliau sakit. Dan orang tidak tahu bahwa saat berpidato tadi, sebenarnya Bung Karno sambil  menahan sakit.

****Sumber : Buku “Bung Karno! Perginya Seorang Kekasih Suamiku & Kebanggaanku”; Aneka Ilmu; Semarang; 1978

Kebiasaan Bung Karno

Menjadi kebiasaan Bung Karno apabila menghadapi persoalan yang  ruwet, ada dua jalan pemecahannya yang merupakan ciri khas dari Bung Karno. Kalau tidak wayangan di istana, dan selalu berdialog dulu  dengan dalangnya. Yang dibuat dialog adalah persoalan yang sedang  dihadapinya. Dan persoalan itulah yang nantinya dituangkan dalam lakon cerita wayang tersebut. Sedang kalau jalan-jalan,  biasanya menyusur  pematang-pematang sawah di tegalan seorang kyai di Sukanegara Jawa Barat. Kegemaran Bung Karno untuk berkomunikasi tentang agama dengan kyai sudah sejak dulu. Saat beliau masih dalam pembuangan di Ende, Flores. Biasanya jalan-jalan ke tempat kyai pada malam hari, berangkat dari Jakarta sekitar tengah malam dan  pagi harinya sudah berada kembali di istana. Sehingga orang tidak tahu bahwa semalam Bung Karno pergi jalan-jalan.

****Sumber : Buku “Bung Karno! Perginya Seorang Kekasih Suamiku & Kebanggaanku”; Aneka Ilmu; Semarang; 1978


Filsafat Singapura

Jika tidak dapat menjadi tujuan akhir dari barang-barang. Singapura masih dapat menjadi tempat persinggahannya. Bahkan jika tidak dapat menyerap banyak industri besar dalam batas-batas negaranya, Singapura dapat memudahkan dan membantu mengelola operasi-operasi industri di lokasi-lokasi yang dekat.

**** Sumber : Buku “The Marketing Of Nations-Pemasaran Keunggulan Suatu Bangsa”; Philip Kotler & Friends; 1997